AKU SEKARANG MENGUTUS KAMU - Ego Mitto Vos -
Inilah ajakan misi Tuhan dengan menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Sering jumlah 70 ini dikaitkan dengan jumlah anggota sanhedrin. Namun, lebih tepat jika jumlah ini dikaitkan dengan Kejadian 10 tentang jumlah 70 bangsa di dunia ini (bdk. Ul 32:8; Kel 1:5).
Jadi, misi Yesus bersifat universal kepada bangsa-bangsa di dunia, bukan hanya partial kepada bangsa Yahudi saja. Yesus juga tidak berkarya sendirian di dalam mewartakan Kerajaan Allah tapi Ia membutuhkan para murid sebagai “co-laborator”: mitra karya bersama.
Adapun tiga perutusan dasar Yesus dapat dirumuskan sebagai “3M”, yakni: 1. Mother ; 2. Messenger ; 3. Model
1. Mother:
“Sebab beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu.” (Yes 66:12-13).
Jelaslah bahwa Tuhan hadir seperti seorang “mother”: ibu yang berbagi kehangatan dan bukan kejahatan, pujian dan bukan makian, kehidupan dan bukan gosipan. Ia juga mengajak kita menjadi “ibu” yang mau berbagi kehangatan bagi sesama kita secara real dan aktual dengan kata dan tindakan nyata setiap harinya.
2. Messenger:
Para murid yang digambarkan sebagai “DOMBA” (pribadi yang “Damai OMongannya karena Bersama Allah) di tengah “SERIGALA” (dunia yang 'SERakah, Iri hati, GALAk”) diajak untuk setia menjadi messenger, pembawa pesan kasih Tuhan. Adapun pesannya hari ini ialah “damai sejahtera (Ibr: Syalom).
Kita juga diajak menjadi messenger” yang memperjuangkan persatuan dan bukan perpecahan, yang berbagi kedamaian dan bukan kebencian.
Perdamaian: damai teologis (terhadap Tuhan), damai sosiologis (terhadap sesama), damai psikologis (terhadap diri sendiri) maupun juga damai ekologis (terhadap alam semesta).
Gambaran “domba” sendiri sebagai binatang yang lembut dan tanpa senjata mengajak kita untuk terus maju mewartakan Injil yang penuh kedamaian, yang terwujud pula dalam tindakan afektif/sapaan, kuratif/penyembuhan maupun karitatif/amal kasih.
3. Model:
Para murid tidak diperkenankan membawa uang, bekal dan kasut agar misi perutusan mereka bersifat lepas bebas, tidak bergantung pada apa yang mereka punyai (mereka bawa) tetapi pada apa yang mereka lakukan dan wartakan, yakni Tuhan dan karya keselamatan-Nya (providential divina – penyelenggaraan Tuhan).
Jadi, Tuhan mengajak kita menjadi saksi perutusan, bukan hanya dengan kata kata tapi dengan tindakan nyata, karena jelaslah era ini adalah era “kesaksian”, dimana orang lebih mudah percaya pada “mata” (pada apa yang mereka lihat) daripada pada “telinga” (pada apa yang mereka dengar).
Selanjutnya, para murid juga tidak diperkenankan memberi salam kepada siapapun di dalam perjalanan. Tentu Tuhan tidak bermaksud mendidik para murid agar tidak ramah kepada siapapun, tapi bukankah memberi salam bisa berlanjut dengan “keramah-tamahan basa-basi” berikutnya (misalnya: bercakap-cakap, saling menanyakan kabar, diundang makan, dsb.).
Kebiasaan semacam ini tentu tidak jelek, tetapi tidak tepat untuk kondisi para murid yang sedang melaksanakan tugas perutusan tersebut. Mereka akan tergoda untuk tidak fokus dan terlena dengan waktu yang tidak produktif.
Disinilah, Tuhan mengajak kita menjadi “model”, semacam contoh iman yang bisa berbagi keteladanan, terlebih kepada keluarga dan sesama di sekitar kita secara nyata setiap harinya.
Saudaraku, mari pergi kita semua diutus. (Hd)