arrow_back Kembali
Renungan 09 May 2015

AKU MENYEBUT KAMU SAHABAT

Pada jaman ini persahabatan sangat dicederai oleh kepentingan-kepentingan sesaat dan kepentingan-kepentingan antar golongan. Uang sering menerjang tak kenal teman. Kepentingan politis dan kekuasaan sering mengorbankan relasi personal yang telah dirintis sekian lama. Kepentingan golongan sering menguji persahabatan tulus yang telah dihidupi dengan damai. Tak heran kalau banyak manusia mengalami kekeringan persaudaraan sejati. Bahkan banyak yang ragu apakah persahabatan dan persaudaraan sejati itu masih ada.

Dalam jaman seperti ini tawaran Yesus sebagai sahabat sejati menjadi oase yang sangat menghidupkan. Apalagi, persahabatan yang ditawarkan Yesus bukan sekedar rasa senang bersama, tetapi bahwa kita diijinkan tahu rahasia ilahi.  “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15:15). Demikian kata Yesus.

Mengenai hal ini tentu kita layak merenungkan, apakah kita sudah bersahabat dengan Yesus. Apakah kita cukup merasa mewarisi rahasia kasih ilahi Tuhan? Apakah kita membuat percakapan penuh persahabatan dengan Yesus di dalam doa? Atau sebaliknya kita masih melihat doa sebagai aktivitas wajib yang kering karena hanya berisi permohonan kita sendiri? Kita bisa membangun persahabatan yang dalam dengan Yesus lewat doa percakapan penuh rasa dekat dan percaya padanya.

Para murid jemaat perdana menunjukkan kualitas yang lebih unggul lagi. Mereka mencerminkan persaudaraan sejati dalam menerima orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Petrus dan jemaat perdana tak lagi mengedepankan perbedaan asal-usul, tetapi mengedepankan kasih persahabatan yang telah diteladankan oleh Yesus, Sang Guru. Mereka tak lagi ragu untuk menerima dan membabtis orang dari berbagai kalangan. “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” (Kis 10:47).  Demikianlah dikatakan Petrus memberi alasan atas pembaptisannya bagi orang-orang bukan Yahudi. 

Kalau Tuhan sendiri menyebut kita sahabat marilah kita merasakan persahabatan itu dan mencerminkannya dengan sikap penuh persahabatan dengan sesama.  (IgnaSpn)