ACT LOCALLY
Kecenderungan manusia di Era Globalisasi, melihat ke depan. Apa yang akan terjadi esok hari, tahun depan, produk apa yang akan muncul dan baru serta canggih, apa yang paling up-to-date. Kemajuan memang begitu pesat di segala bidang. Yang berperan besar di Era Globalisasi ialah Google melalui satelit-satelit yang bisa mendata seluruh dunia sampai ke pelosok-pelosok. Hal ini mempunyai segi positif bagi masa depan umat manusia. Namun di lain pihak, manusia tidak lagi memperhatikan serta mempedulikan lingkungannya sendiri, nasib manusia terbengkalai sehingga terjadi kesenjangan sosial. Sebagian besar penduduk dunia dilanda kemiskinan akibat Kolonialisme Global. Manusia terbius oleh kemajuan IPTEK dan tidak sadar bahwa bangsa-bangsa dewasa ini dalam cengkeraman “Kolonialisme Global”. Dewasa ini paling tidak 80% penduduk dunia dalam keadaan miskin yang melanda antara lain : Amerika Latin, Afrika, India, Timur Tengah, Eropa Timur, Rusia, Tiongkok dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara paling tidak 45% penduduk hidup di bawah 1 US dollar per hari. Peperangan dan konflik semakin meluas. Ini tidak lain demi suksesnya perdagangan senjata dengan kantor pusat di Bruxelles (Belgia). Keuntungan Multi Triliuner, PBB memperjuangkan perdamaian antar bangsa-bangsa, namun Bruxelles mengganti jiwa-jiwa manusia dengan senjata melalui pengembangan konflik dan peperangan antar suku dan bangsa. Dari segi agama, semakin banyak orang tertarik pada rutualisme dan sedikit pada penghayatan iman. Agama yang acaranya menarik dan menyentuh perasaan serta dikagumi semakin popular. Atheisme praktis semakin berkembang, yakni Tuhan diakui dengan bibir, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak mempedulikan bahwa Tuhan, dunia akhirat, hari kiamat dengan pengadilannya itu ada. Penipuan, korupsi, acuh tak acuh terhadap penderitaan sesama, hidup mencari kemewahan duniawi adalah idola hidup lalu manusia terseret ke kehidupan kapitalistis dan konsumeristis. Dengan Era semacam ini panggilan menjadi imam, bruder, suster dan misionaris awam merosot. Banyak keluarga tidak mampu mewariskan nilai-nilai baik serta Injili kepada anak dan cucunya. Semuanya diserahkan kepada Sekolah. Mereka lupa bahwa tugas utama keluarga adalah membina, mendidik, mewariskan nilai-nilai baik dan Injili serta mencetak kader-kader bangsa dan Gereja untuk masa depan. Dari segi akademis Sekolahlah yang membantu keluarga. Inilah tindakan Act Locally di Era Globalisasi. Untuk mempertanggungjawabkan tindakan kita dalam pengadilan terakhir renungkan apa yang dikatakan Kristus dalam Injil ketika menjawab orang-orang Farisi :”Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan ; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum ; ketika Aku menjadi orang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan ; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian ; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Aku berkata kepadamu : sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal” (Mat. 25, 42-46).
John Tondowidjojo, CM