arrow_back Kembali
Ruang Katekese 13 December 2015

10 WUJUD PERTOBATAN UNTUK MENGHADIRKAN KERAHIMAN ALLAH

1. Para Imam, Katekis, Guru Agama dan Biarawan-Biarawati
Kekhususan panggilan justru terletak pada prioritas menjawabi perutusan menghadirkan Kasih yang nyata dengan segala kerendahan hati yang serta merta menyadari segala keterbatasan dan kelemahan. Hendaknya kita lebih menyadari sebagai figur pertama yang diharapkan menghadirkan wajah kerahiman Allah bagi umat dan masyarakat.
Kehadiran yang meneguhkan, tuturkata / cara berbicara yang tidak melukai, perilaku yang sesuai dengan status khusus sebagai insan Gereja di tengah masyarakat, murah senyum dan sapa , gaya hidup / penampilan yang sederhana, kemudahan di temui / dihubungi, mengintegrasikan kesenangan / hobby dengan karya kerasulan, penggunaan waktu senggang tanpa mengalahkan cinta pada pelayanan, rendah hati dan gembira. Singkatnya, mengupayakan integritas pribadi yang dijiwai oleh Kasih kepada Tuhan dan sesama.

2. Fungsionaris Pastoral Paroki:
Menghayati panggilan sebagai tim pastoral bagi Romo paroki, yakni ambil bagian dalam karya penggembalaan seluruh Umat Allah agar rahmat kerahiman Allah di alami seluruh jemaat serta mengupayakan agar Gereja menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Kedudukan sebagai perangkat pastoral paroki bukanlah jenjang karier kekuasaan duniawi melainkan panggilan pelayanan. Pertemuan-pertemuan dan penyusunan program serta pengelolaan harta benda tidak sekedar tindakan keorganisasian melainkan suatu pewujudan iman anak anak Tuhan yang guyub saling melayani. Bukan hanya sibuk mengelola 99 domba tetapi mencari yang ‘hilang’, sakit, miskin, lemah, difabel dan tersingkir.

3. Komunitas Religius dan Kelompok-Kelompok Kategorial
Semakin menghayati sebagai oase yang menyejukkan dan menghadirkan sumber air kerahiman Tuhan bagi anggota dan bagi setiap orang yang datang ke komunitas dan kelompok. Berupaya supaya komunitas dan kelompok menjadi ruang terbuka bagi setiap peziarah kehidupan yang haus akan pengalaman Rohani serta daya kreatif Allah. Setiap anggota tersapa sebagai anggota keluarga dan terpupuk kedewasaan imannya. Dengan demikian setiap komunitas dan kelompok menjadi perpanjangan kehadiran Gereja mengemban misi menjiwai tata dunia dengan semangat kristiani.

4. Kesekretariatan Paroki
Menyadari dan mewujudkan fungsi kantor kesekretariatan paroki sebagai ruang perjumpaan dan pelayanan bagi Umat. Ad-ministrasi pada hakekatnya melayani. Kita upayakan interaksi pelayanan di sekretariat Paroki sungguh menggambarkan ‘ibu Gereja’ yang menyambut hangat, membantu dan melayani anak-anaknya yang datang kepadanya dengan penuh sukacita. Jauhkan kesekretariatan paroki dari segala bentuk keangkuhan dan kesan mempersulit. Kantor sekretariat paroki bukan kantor pemerintah ataupun gerai pemungut cukai melainkan wajah terdepan pelayanan Gereja bagi Umat dan siapapun yang datang. Mari kita perbaiki wajah kesekretariatan kita dengan: kesopanan, keramahan, kehangatan dan pelayanan yang profesional. Di kantor sekretariat paroki dipertaruhkan kredibilitas dan kesungguhan pelayanan Gereja.

5. Karya-Karya dan Lembaga-Lembaga Gerejani
Adanya karya-karya dan lembaga-lembaga Katolik pertama-tama bukanlah dimaksudkan sebagai unit bisnis pribadi/kelompok tertentu untuk mendapatkan kekayaan duniawi, melainkan perpanjangan tugas pewartaan dan diakonia bunda Gereja. Demikian juga fungsi di tengah masyarakat bukan sekedar semacam Lembaga Sosial Kemasyarakatan belaka namun pewujudan misi Tuhan melayani, memberdayakan, membebaskan, menyembuhkan dan menguduskan. Jauhkanlah karya-karya dan Lembaga-lembaga Katolik dari praktek-praktek yang menyebabkan orang kecil tak mampu menjangkau, dari kesan masyarakat sebagai pelayan yang elit, mahal, angkuh, disiplin namun tak ada kasih, apatis dan tidak manusiawi.

6. Keluarga-Keluarga Katolik
Tumbuhkan kebiasaan: sharing, berdoa bersama, saling mendoakan /memberkati, berterimakasih dan memaafkan sebagai budaya keluarga Katolik. Carilah bentuk dan cara untuk menjadikan rumah Anda menjadi tempat dimana setiap anggota keluarga menemukan dan merasakan kehangatan hati. Hindarilah aneka bentuk gosip, keluhan, cercaan dan kata-kata menyakitkan. Kembangkanlah kebiasaan positip : pujian, peneguhan, musyawarah, saling berbagi, sapaan-sapaan hangat dan meminta maaf atas kesalahan.

7. Pelayanan Sakramental
Hendaklah para imam antusias dan penuh sukacita dalam melayani sakramen. Jauhkan diri dari keengganan dan kemalasan. Sakramen adalah kekayaan yang hanya dimiliki oleh Gereja Katolik, melaluinya rahmat penyelamatan dan kerahiman Allah tercurahkan bagi Umat dan untuk itulah para imam di tahbiskan. Siapkan setiap perayaan sakramen dengan sungguh-sungguh. Tak mengijinkan kemarahan dan kekasaran (verbal/perilaku) merusak dan menodai kekudusan perayaan. Tak lagi menggunakan Altar dan mimbar Sabda untuk pelampiasan emosi pribadi ataupun untuk menggalang dana. Secara khusus pelayanan sakramen tobat hendaknya diutamakan dan para imam selalu siap menerima umat yang datang memohon rahmat pengampunan.
 
8. Hubungan Kemasyarakatan
Gereja adalah Sakramen Kristus. Melalui Gereja lah masyarakat melihat, menyentuh dan mengalami karya penyelamatan Kristus. Seperti Zakeus, masyarakat rindu untuk melihat macam apa Yesus, rindu ditatap dan disentuh oleh Tuhan Yesus. Masyarakat ingin mengalami wajah Allah dalam Yesus. Maka betapa pentingnya kehadiran Gereja melalui para pejabat, fungsionaris dan para pemuka jemaat, bahkan setiap pribadi orang katolik untuk hadir, terlibat dan menyatu dengan keprihatinan masyarakatnya. Penting sekali kehadiran kita di peristiwa-peristiwa kenegaraan / pemerintahan, keterlibatan dalam dialog karya dengan umat agama lain serta keterlibatan pada gerakan perdamaian dan pelestarian lingkungan hidup.

9. Pengajaran
Dari katekese dan pengajaran agama maka kebenaran iman dan sejarah keselamatan didengar dan di terima oleh Umat. Imam sebagai katekis yang utama hendaknya menyediakan waktu yang cukup untuk mengajar (katekese umat). Terutama untuk dalam mengajarkan Kerahiman Allah. Sebagaimana diingatkan oleh Paus Fransiskus, mengingat ajaran tentang kerahiman semakin dikesampingkan.
 
10. Sosial Karitatif
Di mana ada solidaritas dan subsidiaritas di situlah kemurahan hati Allah di wujudkan secara nyata. Mari kita tingkatkan kepedulian bagi yang membutuhkan.

(Lampiran 'Surat Gembala Pembukaan Tahun Yubileum Kerahiman Allah'  pada  tanggal 7 Desember 2015 oleh Bapak Uskup Surabaya - Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono -)